Thursday, May 24, 2012

Mengapa Aku Harus Menikahimu?

Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.

Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.

Mereka, orangtuanya, telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.

Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan “dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis, yang relijius, dan mengamalkan agamanya. Pada malam itu, pemuda itu dan seorang gadis yang dibawa orangtuanya, dibiarkan untuk berbicara, dan saling menanyakan pertanyaan satu sama lainnya, seperti biasa.

Pemuda tampan itu, mengizinkan gadis itu untuk bertanya terlebih dahulu.

Gadis itu menanyakan banyak pertanyaan terhadap pemuda itu, dia menanyakan tentang kehidupan pemuda itu, pendidikannya, teman-temannya, keluarganya, kebiasaannya, hobinya, gaya hidupnya, apa yang ia sukai, masa lalunya, pengalamannya, bahkan ukuran sepatunya…

Si pemuda tampan menjawab semua pertanyaan gadis itu, tanpa melelahkan dan dengan sopan. Dengan tersenyum, gadis itu telah lebih dari satu jam, merasa bosan, karena ia sedari tadi yang bertanya-tanya, dan kemudian meminta pemuda itu, apakah ia ingin bertanya sesuatu padanya?

Pemuda itu mengatakan, baiklah, Saya hanya memiliki 3 pertanyaan. Gadis itu berpikir girang, baiklah hanya 3 pertanyaan, lemparkanlah.

Pemuda itu menanyakan pertanyaan pertama:

Pemuda: Siapakah yang paling kamu cintai di dunia ini, seseorang yang dicintai yang tidak ada yang akan pernah mengalahkannya?

Gadis: Ini adalah pertanyaan mudah, ibuku. (katanya sambil tersenyum)

Pertanyaan ke-2

Pemuda: Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surat mana yang kamu ketahui artinya?

Gadis: (Mendegar itu wajah si Gadis memerah dan malu), aku belum tahu artinya sama sekali, tetapi aku berharap segera mengetahuinya insya Allah, aku hanya sedikit sibuk.

Pertanyaan ke-3

Pemuda: Saya telah dilamar untuk menikah, dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik daripada dirimu, Mengapa saya harus menikahimu?

Gadis: (Mendengar itu si Gadis marah, dia mengadu ke orangtuanya dengan marah), Aku tidak ingin menikahi pria ini, dia menghina kecantikan dan kepintaranku.

Dan akhirnya orangtua si pemuda sekali lagi tidak mencapai kesepakatan menikah. Kali ini orangtua si pemuda sangat marah, dan mengatakan “mengapa kamu membuat marah gadis itu, keluarganya sangat baik dan menyenangkan, dan mereka relijius seperti yang kamu inginkan. Mengapa kamu bertanya (seperti itu) kepada gadis itu? beritahu kami!”.

Pemuda itu mengatakan, Pertama aku bertanya kepadanya, siapa yang paling kamu cintai? dia menjawab, ibunya. (Orangtuanya mengatakan, “apa yang salah dengan itu?”) pemuda itu menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim, hingga dia mencintai Allah dan RasulNya (shalallahu’alaihi wa sallam) melebihi siapapun di dunia ini”. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) lebih dari siapapun, dia akan mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku, karena cinta itu, dan ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami akan berbagi cinta ini, karena cinta ini adalah yang lebih besar daripada nafsu untuk kecantikan.

Pemuda itu berkata, kemudian aku bertanya, kamu banyak membaca Al-Qur’an, dapatkan kamu memberitahuku arti dari salah satu surat? dan dia mengatakan tidak, karena belum memiliki waktu. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa Aku harus menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya, dan apa yang akan dia ajarkan kepada anak-anakku, kecuali bagaimana untuk menjadi lalai, karena wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru terbaik. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, tidak akan memiliki waktu untuk suaminya.

Pertanyaan ketiga yang aku tanyakan kepadanya, bahwa banyak gadis yang lebih cantik darinya, yang telah melamarku untuk menikah, mengapa Aku harus memilihmu? itulah mengapa dia mengadu, marah. (Orangtua si pemuda mengatakan bahwa itu adalah hal yang menyebalkan untuk dikatakan, mengapa kamu melakukan hal semacam itu, kita harus kembali meminta maaf). Si pemuda mengatakan bahwa Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) mengatakan “jangan marah, jangan marah, jangan marah”, ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan adalah datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya dengan orang asing yang baru saja ia temui, apakah kalian pikir dia akan dapat mengontrol amarah terhadap suaminya??

Pelajaran akhlak dari kisah tersebut adalah, pernikahan berdasarkan:

Ilmu, bukan hanya penampilan (kecantikan)
Amal, bukan hanya berceramah atau bukan hanya membaca
Mudah memaafkan, tidak mudah marah
Ketaatan/ketundukan/keshalihan, bukan sekedar nafsu
Dan memilih pasangan yang seharusnya:

Mencitai Allah lebih dari segalanya
Mencintai Rasulullah (shalallahu ‘alai wa sallam) melebihi manusia manapun
Memiliki ilmu Islam, dan beramal/berbuat sesuai itu.
Dapat mengontrol kemarahan
Dan mudah diajak bermusyawarah, dan semua hal yang sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam.
Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Wanita dinikahi karena empat hal, [pertama] karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

oleh: Zafaran

(muslimahzone.com/arrahmah.com)

Sunday, May 20, 2012

Di bawah naungan senyum rembulan

Hmmm, lagi liat film youtube tentang bulan.. koq jadi inget senyum rembulan ya.. saat itu, pulang kantor, buka jendela apartemen lebar-lebar lalu bawa kursi tengah ke teras dan duduk berdua dengan Sarah di bawah sengat sinar rembulan..

Aku: "Sarah, kamu tahu apa yang sedang dilakukan oleh rembulan saat ini"
Sarah: "Apaan, memangnya kamu tau?"
Aku: "bulan sedang tersenyum padamu"
Sarah: "aah, ada-ada saja.. kenapa bisa dia tersenyum padaku"
Aku: "eh, salah.. redaksinya adalah.. dia tersenyum melihatmu"
Sarah: "tersenyum melihatku, karena apa"
Aku: "karena melihat aku ada di sampingmu"
Sarah: "em.. masih bingung nih..."
Aku: "ya tentu saja bulan tersenyum, kamu yang cantik dan sempurna seharusnya bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku, koq hanya dapet cowok kucel seperti aku.. karenanya bulan tersenyum"
Sarah: "John, jangan pernah berkata seperti itu.. kamu adalah anugerah bagi hidupku.. langit, bumi, serta apa-apa yang tercipta diantara keduanya telah ditakdirkan untuk mentaati ALLAH, begitu juga dengan aku.. tapi engkau, adalah jalan terbaik bagiku untuk lebih mencintai ALLAH"
Aku: "la ilaha ilallah, la quwata ila billah... aku serahkan seluruh nyawaku hanya untuk mencintai ALLAH, dan aku serahkan separuh akalku untuk mencintaimu"
Sarah: "koq separuh akalmu untuk mencintai aku sih, seluruh akalmu sekalipun untuk mencintai ALLAH, bukan untuk mencitai makhluk, kamu tau kan.. dosa terbesar, dosa yang tidak terampunkan adalah syirik, tidak perduli syirik kecil, ataupun syirik besar..."
Aku: "dahulu, Umar bin Khatab ra pernah mengucapkan hal yang serupa, beliau berkata 'aku serahkan separuh nyawaku untuk ALLAH' lalu rasulullah saw meralatnya, 'wahai Umar, katakan seluruhnya karena ALLAH menginginkan seluruhnya' lalu Umar ra pun mengulangi kalimatnya, 'aku serahkan seluruh nyawaku hanya untuk ALLAH dan rasulNya'... kemudian rasulullah saw bersabda, 'benar demikian Umar, benar demikian' dan kali ini, aku ingin melihat reaksi darimu, ternyata kamu, bidadariku telah meralatnya sebagaimana dahulu kekasihku rasulullah saw telah meralat kalimat Umar ra, maka.. dibawah senyum rembulan aku akan meralat kalimatku, aku serahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya untuk mencintai ALLAH aza wajallah"
Sarah: "benar, demikianlah yang dikehendaki oleh ALLAH dan rasulnya"
Aku: "Sarah, kamu tahu.. hari ini, banyak alasan orang mencintai dan tidak hanya karena ALLAH, ada karena harta, karena syahwat dan banyak lagi.. dan, tahu kah kamu alasan aku mencintaimu?"
Sarah: "waaaaa.. pertanyaan yang bikin hati berdebar nih, aku juga punya pertanyaan.. tahu kah kamu apa alasanku menerima pinanganmu?"
Aku: "jiaaaah, curang.. aku kan tanya duluan, koq kamu balik tanya sih.. jawab tanyaku dulu dong.."
Sarah: "Apaan ya? em.. kamu mencintai aku karena ALLAH.. betul tidak.."
Aku: "tepat sekali..."
Sarah: "haaa, gitu doang... koq nggak seru sih..."
Aku: "memangnya kamu ingin jawabannya seperti apa?"
Sarah: "apa lah, yang bikin jantung berdegub kencang.. hi3x.."
Aku: "Em, bgimana kalau jawabannya adalah.. aku memang mencintai kamu karena ALLAH, untuk sempurnakan agamaku, dan sebagai sarana bagi aku untuk mendapatkan naungan dari orang-orang pilihan ALLAH.. dan juga, untuk mententramkan hatiku, siapa sih nggak pengen punya istri cantik, seksi, asoy geboy seperti kamu, lihat bayangan kamu saja kejantananku langsung bereaksi, dan saat aku melihat bola matamu yang indah, rasanya seluruh persendian tulangku lepas, apalagi kalau mendengarkan lidahmu berdzikir, dan suaranya melewati bibir seksimu itu, alamak.. klepek-klepeklah diriku ini..."
Sarah: "astaghfirullah.. jawabannya bener-bener diluar dugaan, pengen cubit kamu... cubit cubit cubit cubit cubit..."

Waaah, gaswat nih.. kalau sudah segmen cubit, habislah badan awak ini dicubit kecil-kecil oleh jemari lentiknya..
Aku: "aduh, stop.. sakit.."
Sarah: "sudah nyerah belum...?"
Aku: "sudah, nyerah deh... lalu, kenapa kamu menerima pinanganku"
Sarah: "karena, aku suka dengan sosok yang tidak dibuat-buat, tampil apa adanya, dan yang paling penting adalah.. aku, suka pemuda tampan yang beriman dan imannya menghunjam sampai ke akar sanubarinya"
Aku: "waaaa, fitnah nih... bagaimana kamu bisa tau tentang imanku, imanku itu tipis sekali, bahkan lebih tipis dari kulit bawang, bagaimana kulit bawang bisa menghunjam dan kulit bawang tidak pernah punya akar.."
Sarah: "akan tiba suatu masa, semua akan terjawab... la ilaha ilallah, la quwata ila billah"
Aku: "la quawata ila billah..."

Tuesday, May 15, 2012

Hanya setahun sekali (?)

Hari ini, jam 08.00 pm.. berencana 'traktir' orang se-kibanadai karena ulang tahun.. sebenarnya bagi dua sih, ada yang ulang tahun juga bulan Mei.. wait a minute, you know kan.. bukan gue banget kalau pas ulang tahun lalu ada acara traktir-traktir.. tapi, kata teman dari lab kiyotake, "hanya setahun sekali ini saja, daijobu".. em, karena ada perasaan bersalah, akhirnya ditebus dengan kirim duit dengan budget setara traktiran ntar malem ke rekening Rumah Yatim.. hmmmffft, bukannya kalau buat sedekah mestinya tepat sasaran..! Sudah tajir semua koq ditraktir, mending traktir anak yatim.. kasih duit buat sekulah mereka.. manfaat, jadi amal jariyah.. btw, semoga dimaafkan olehNya.. ALLAHumaghfirlana ya rabbul alamin.. karena setiap orang punya sudut pandang yang berbeda-beda dalam memandang akhirat mereka.. prepare your jannah, please..!

Catatan kecil 'anggota' ISTI (Bagian 7)

Tuesday, April 10, 2012

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. ..;

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo. Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu. Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu... Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu\'ala Rasulillah, amma ba\'du. Sebelumnya saya mohon ma\'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita... Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya. Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. Tiga puluh tahun yang lalu ... Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan & Pasha; yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma\'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini. Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan! Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli. Karena ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja; tegas ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah. Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya. Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus. Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya! Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira. Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan;Pasha;. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan. Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. ;Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.; Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja. Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya. Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari\'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, ;Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.; Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga.

Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun. Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!! Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami. ;Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!; ;Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,; jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound. Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam. Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT. Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan. Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih. Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi\'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan. Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,;Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.; Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami.

Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka. Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, ;Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha.; Yang mereka maksudkan dengan Tuan ;Pasha; adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini. Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu. Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad. Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita: Sambil menatap kaki langit Kukatakan kepadanya Di sana...di atas lautan pasir kita akan berbaring Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba Bukan karna ketiadaan kata-kata Tapi karena kupu-kupu kelelahan Akan tidur di atas bibir kita Besok, oh cintaku... besok Kita akan bangun pagi sekali Dengan para pelaut dan perahu layar mereka Dan akan terbang bersama angin Seperti burung-burung Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama! ;Gila... ide gila!!!; pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak: ;Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.; Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya. Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll.

Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya. Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. ;Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang...; bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat. Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak.

Tetapi istriku memang \'edan\'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: ;Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.; Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas. Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami. Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz...; Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Catatan:
Kalian semua, hidup dengan penuh kemapanan, bukan dari kalangan gelandangan bahkan sebagian dari kalian menerima beasiswa untuk sekolah hingga jenjang Doktor, gunakan dengan semaksimal mungkin, agar ada barokah di dalamnya dan akan kamu jumpai pertolongan langsung dari Dzat Penguasa langit dan bumi

Sumber:
milis Beasiswa DIKTI, 10 April 2012

Wednesday, February 22, 2012

At Orchad Road, Singapore

Kamu tiba-tiba update status facebook dengan posisi di Orchad Road Singapura! Caranya gampang.. search melalui facebook dengan keyword Orchad Road, Singapore lalu pilih kategori Places, bukan People atau Pages.. klik tulisan Add to Map pada pojok kanan atas screen kemudian ketik statusmu.. hanya begitu saja koq, gampang kan.. Tetap semangat sodara semua, dan jadilah dirimu sendiri.. :D

note: click image untuk memperbesar gambar.. selamat mencoba

Saturday, February 18, 2012

児童と留学生が国際交流 (International students and children)



児童と外国人留学生が、英語を使って交流です。これは、小林市野尻町の栗須小学校が、外国語活動の一環として、毎年、行っているものです。15日は、宮崎大学の留学生7人が学校を訪問。5、6年生と一緒に、英語を使ったゲームなどを楽しみました。このあと、児童と留学生たちは、一緒に給食を食べて、交流を深めていました。

Wednesday, January 25, 2012

Join WazzUB dapat duit.. MAU


‎"WazzUB" adalah pesaing "Google" yang akan memberikan sebagian keuntungan yang didapat oleh WazzUB ke rekening Anda.

WazzUB baru yang akan launch pada tanggal 9 April 2012 mendatang, simak narasi berikut…

1. Google
Anda pasti tahu perusahaan seperti Google atau Yahoo! Dan Anda pasti tahu juga berapa banyak yang mereka peroleh. Anda tidak tahu? Mereka mendapatkan miliaran Dollar setiap tahunnya (Google mendapat $ 29.000.000.000 hanya pada tahun 2010) itu berkat KITA yang menggunakan layanan mereka. Google menawarkan banyak layanan. Tapi 95% dari pendapatannya ($ 27.550.000.000) berasal dari hanya SATU layanan saja yaitu mesin pencari Google Search. Setiap user yang menggunakan Google Search membuat Google mendapatkan sekitar 1 $ / hari. Bayangkan jika Anda bisa mendapatkan hanya 0.001% dari penghasilan Google Search: $ 275.000/Tahun (sekitar $ 23.000/bulan). Masalahnya adalah: Anda tidak akan mendapatkannya karena Google menyimpan SEMUA penghasilannya untuk dirinya sendiri.

2. Wazzub "Revolusi Pengguna"
Pada tahun 2007, seseorang berpikir "Kami, para pengguna membuat mereka mendapatkan miliaran dan kami tidak mendapatkan satu sen-pun, itu sangat menjijikkan". Maka Lahirlah WazzUB. WazzUB adalah mesin pencari seperti Google, yang akan memberikan anda uang untuk merujuk orang ikut bergabung menjadi member anda. Anda akan mendapatkan $ 1/bulan, SEUMUR HIDUP, untuk setiap user yang bergabung dengan WazzUB menggunakan link referral Anda. Dan Anda juga mendapatkan $ 1/bulan, SEUMUR HIDUP, setiap kali seseorang bergabung dengan kelompok Anda (misalnya: Anda akan mendapatkan $ 1 jika teman Anda mengundang seseorang untuk bergabung, tetapi Anda juga akan mendapatkan $ 1 jika teman dari teman Anda itu mengajak seseorang untuk ikut bergabung juga, dan seterusnya ).


Anda dapat mencoba kalkulator mereka untuk melihat bagaimana hal itu dapat dengan mudah untuk mendapatkan $ 4000/bulan tanpa usaha apapun. Anda hanya perlu mengajak 5 orang untuk melakukan hal yang sama dalam 5 tingkatan. Hal ini dapat dilakukan dengan cepat & mudah hanya dengan memberitahu teman-teman Anda dan dengan memposting di forum di Internet seperti yang saya lakukan saat ini. 4000 $ / bulan, SEUMUR HIDUP, hanya untuk memberitahu teman Anda untuk bergabung sebuah website. Kedengarannya luar biasa, bukan? Dan itu kenyataan.

3. Mengapa WazzUB membayar begitu banyak untuk penggunanya?
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa Wazzub membayar Anda untuk mengajak orang untuk bergabung. Sebenarnya, jawabannya cukup sederhana, semakin banyak pengunjung yang mereka dapatkan, semakin banyak mereka dibayar. Ingat, Google mendapat $ 1 per pengguna PER HARI. WazzUB akan membayar Anda $ 1 per pengguna PER BULAN. Jadi masih menguntungkan untuk WazzUB.


4. Ambil keputusan Anda
Anda harus mengambil keputusan dengan sangat cepat: bergabung sekarang, mulai memberitahu teman-teman Anda dan dapatkan $ 50, $ 1000, $ 4000 atau bahkan lebih per bulan selama seluruh hidup Anda. Atau menunggu dan melihat apakah WazzUB itu benar-benar legit ... Tapi hati-hati: Wazzub tidak akan membagi hasil pendapatannya untuk anggota yang bergabung setelah April, 9, 2012. Sebenarnya, mereka menganggap bahwa setelah 3 bulan ini mereka akan memiliki cukup anggota dan mereka tidak harus membayar untuk mendapatkan lagi anggotanya secara lebih dan lebih.

Jadi bergabung SEKARANG, GRATIS, dan ajaklah orang-orang yanglebih banyak sebelum April, 9 2012. Setelah itu, akan terlambat. Anda memiliki 3 bulan untuk mengubah hidup Anda.

5. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan, saatnya untuk mendaftar

Anda harus, dan Anda tidak harus membayar apapun untuk medaftar. Benar-benar GRATIS.

pergi ke link di bawah ini

masukkan email & data-data Anda , klik tombol "Join" dan ... hanya Itu saja.


Kemudian, Anda akan segera menerima email dengan informasi penting dan link referral Anda.

6. SEGERA beritahu semua orang tentang WazzUB
Hal penting untuk diingat adalah semakin cepat Anda untuk mem-posting di forum, memberitahu teman-teman Anda, dll .. orang-orang akan mendaftar dengan link referral ANDA.

WazzUB sangat lah baru. Anda akan menjadi salah satu orang pertama di dunia untuk tahu tentang hal itu. Jangan membuang kesempatan ini.

Anda dapat meng-copy & paste eBook ini dan mengumumkannya dengan link referral anda sendiri, No Problemo, nggak masalah..

POKOKNYA GRATIS.. TISSSS.... DICOBA DAFTAR DULU AJA..... SISTEM PEMBAYARAN DITUNGGU INFORMASINYA PADA SAAT LAUNCH RESMI WazzUB PADA TANGGAL 9 APRIL 2012
Gambar di atas adalah contoh perhitungan potensi income ke rekening anda, 5 member dengan kedalaman 5 level dan masing-masing member hanya punya 5 member.. total potensi income adalah $3,905/bulan.. easy money, tenaaan..

Friday, January 6, 2012

Uklam-uklam

Traveling Slideshow: Fadly’s trip from 宮崎県, 九州・沖縄, 日本 to 10 cities 北京, 台北, 福岡市, 愛媛県, 熊本市, 北九州市, 宮崎市, Gyeongju (near 慶州, 韓国), デンパサール and パダン was created by TripAdvisor. See another 中国 slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Tuesday, January 3, 2012

Catatan kecil 'anggota' ISTI (Bagian 7)

OK brow and sist, sesuai requeast agan-agan sekalian... cerita ISTI dilanjutkan kembali.. Bagian 6 sudah sampai wawancara singkat dengan Nyonya besar, istri Pak A. Lalu, kita mau wawancara balik dengan Pak A untuk mengetahui argumen detail tentang alasan mempetsunting Mbak CS (cleaning service)..

Mr. X: "apa kabar Pak, baik..?"
Pak A: "so far, sudah baikan mas.. beneran lho mas, saya takut banget sama nyonya"
Mr. X: "jiaaaaah.. hari gini, ada suami takut sama istrinya, masih jaman ya Pak..."
Pak A: "itu mah hanya lagu mas, 'sejak dulu wanita dijajah pria', lha kenyataannya saya memang takut sama nyonya..."
Mr. X: "dulu, ceritanya bgimana bisa nikah sama nyonya"
Pak A: "disuruh nikah sama Babe, ayahnya nyonya... sebenarnya Babe susah sekali percaya sama orang, dan saya dianggap sebagai karyawan yang loyal, jadinya disuruh nikahi anaknya buat selamatkan perusahaan dari saudara-saudaranya yang suka korupsi duit perusahaan... kalau saya kan orang luar, buat laporan keuangan apa adanya nggak ada yang ditutupp-tutupi, walau hanya belanja pulsa saya tulis semua kalau pakai duit kantor.. akhirnya ketahuan semua borok perusahaan..."
Mr. X: "woooo (bingung sih, koq ceritanya jadi curhat masa lampau gini), lalu kenapa nikah sama Mbak CS, dan kata Mbak CS.. dia belum pernah diapa-apain.."
Pak A: "Em, sebenarnya saya hanya ingin hidup tenang mas.. jenuh, capek, bosan dengan urusan mempertahankan perusahaan yang korup, ingin hidup tenang"
Mr. X: "hidup tenang? menurut Bapak.. yang namanya hidup tenang itu seperti apa?"
Pak A: "seperti petani, pergi ke sawah pagi hari, sebelum dzuhur sudah pulang ke rumah.. punya banyak waktu luang untuk ibadah, bukan melulu urusan duit dan cari duit.."

Hmmmm, njelimet.. saya nggak paham, apakah urusan finansial bukan masalah bagi orang-orang seperti mereka? Bgimana hidup tenang kalau nggak punya duit, betul tidak..? Wait, kita tanyain urusan dengan Mbak CS dulu...

Mr. X: "jadi menurut Bapak, hidup tenang itu adalah tentang hidup sederhana sebagai petani bersama Mbak CS.."
Pak A: "eh, sembarangan.. jiwa pengusaha saya masih melekat dalam diri saya, banyak kesalahan yang dilakukan petani kita, dan saya bisa jadi contoh petani tajir.. yang mau saya raih itu adalah tentang hidup damainya, hidup tenang, tanpa hiruk pikuk isi dunia yang membosankan..."
Mr. X: "saya merasa, ada miss link.. apa urusannya dengan menjadi petani dan menikahi Mbak CS..?"
Pak A: "Em, saya buatkan rumah di kampungnya.. lalu saya juga beli sawah satu petak, tegalan satu petak.. saya mau tunjukkan pada orang kampung bahwa dengan manajemen yang baik, walau hanya satu petak tapi hasil bisa melimpah dan hidup berkecukupan.. mewah sih nggak, secara hanya satu petak doang.."
Mr. X: "hmmmfffff, confuse..."
Pak A: "intinya, saya ingin hidup tenang mas.."
Mr. X: "hidup tenang bagaimana? dimarahin sama nyonya besar begitu koq bilangnya hidup tenang... bgimana sih.. nggak nyambung nih.."
Pak A: "terus terang, kalau bicara cinta.. saya masih cinta sama nyonya dan anak-anak, tapi alur hidup saya nggak bisa dibeli mas.. sudah sejak lama saya merasa dijajah, sapi perah doang.."
Mr. X: "namanya kerja, mestinya untuk keluarga toh pak, kerja keras banting tulang buat siapa lagi kalau bukan untuk keluarga..."
Pak A: "tapinya, bukan dalam tekanan mas... saya dituntut perfect tapi saudara-saudaranya nyonya besar, menggerogoti perusahaan dari dalam... nilai tentder di-mark up sendiri, akhirnya.. yang rugi kan perusahaan juga.. bisa balance sudah syukur alhamdulillah, tapi kalau mengharapkan untung, aduh.. jauuuhh..."
Mr. X: "jadi, sebenarnya Bapak menikahi Mbak CS hanya untuk pelarian saja..."
Pak A: "bisa dibilang begitu, tapi sebenarnya bukan hanya tentang pelarian sesaat, tapi tentang lari beneran dari jalan hidup yang salah.."
Mr. X: "jalan hidup yang salah? maksudnya?..."
Pak A: "bosen mas, ngebelain orang salah biar terlihat benar, kalau saya keluar dari perusahaan ini, sudah kebayang.. hanya dalam hitungan hari, perusahaan akan colapse.."
Mr. X: "eh, ada yang dendam kesumat nih..."
Pak A: "dongkol mas, istri saya mau usir saya dari perusahaan, memangnya bisa apa perusahaan ini tanpa saya, tapi kalau harus pisah dari anak-anak, sepertinya saya nggak sanggup mas, makanya saya diam saja saat nyonya marah-marah di kantor..."
Mr. X: "jiaaaaah, kalau masih sayang sama anak-anak kenapa nikah lagi..."
Pak A: "kan punya istri lain nggak harus pisah dari istri pertama kan mas, betul tidak.."
Mr. X: "iya sih, tapi nyonya besar kan nggak bisa terima dengan kehadiran Mbak CS sebagai madunya, jarang ada perempuan di dunia ini mau dimadu, diracun juga nggak mau pak.."
Pak A: "ha3x.. mas nya bisa saja.."

Friday, December 9, 2011

Sombong hanya milik ALLAH

Dahulu kala, saat Nabi Adam as diciptakan.. Malaikat ajmain dan Iblis laknatullah protes. Malaikat protes karena manusia akan bersifat membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah, tapi iblis protes karena faktor lain, iblis merasa lebih mulia dari manusia..

Cerdas adalah karunia, tercipta brilliant juga nikmat dariNya.. tapi, jangan karena kemuliaan yang kita punya membuat kita merasa mulia dari yang lain..

You know akhir dari cerita tentang iblis..! Karena sifat 'kibr' atau sombong, iblis diusir dan itu adalah akhir dari semua..

Kamu boleh tajir, boleh jenius, boleh juga cerdas.. tapi jangan pernah memasukkan kibr (sombong) dalam hatimu, diharamkan syurga bagi orang yang punya sifat sombong dalam hatinya karena sifat sombong hanya milik ALLAH ta'ala..

Wallahu a'lam.. take care yourself
Kibana, 9 Desember 2011

Thursday, December 1, 2011

Wednesday, November 30, 2011

Semua tentang akumulasi..

Otak, punya memampuan merekam,mengolah dan juga menumpuk informasi yang saban hari kita terima. Sering kita jumpai orang tersandung, lalu dia ucapkan, "astaghfirullah" atau tasbih dan dzikrullah lainnya.. tapi tidak jarang kita temui, tersandung batu lalu yang terucap di lisannya adalah kata-kata kasar, jorok, dan banyak lagi..

Ini sebenarnya tentang akumulasi informasi yang menumpuk lalu menjadi 'data' alam bawah sadar.. kamu tahu, saat sakratul maut.. bukan lisan kita yang berucap, tetapi informasi yang terakumulasi dalam otak kalian.. lalu jadilah data yang siap keluar melalui lisan.. saat sakratul maut.. rasa sakitnya tidak ada bandingannya, bukan sekedar tersandung batu, tapi Nabi saw sampaikan sakitnya seperti ditebas 300 bilah pedang..

Aku, memohon dengan sangat pada kalian semua.. biasakanlah dengan ucapan-ucapan yang baik, agar dimudahkan segala urusan saat di dunia, saat di penghujung kehidupan (sakratul maut), saat di barzakh, saat di mahsyar hingga menuju kehidupan abadi selamanya. Hidup hanya sekali, mati pun hanya sekali.. tiap detik adalah investasi tak ternilai.. untuk bekalan kamu sekalian di akhirat kelak.. la quwata ila billah..